Minggu, 10 Juni 2012

Gadis Kecilku Atik Dan Wiwik

Persimpangan ini tidak bisa aku hindarkan. Meskipun macet dan antriannya panjang, aku harus melewati persimpangan ini. Kemacetan paling parah aku bisa tertahan setengah jam untuk lolos dari lampu merah. Tapi umumnya antrian untuk lolos sekitar 15 menit.. Meski cuma 15 menit, tetapi menunggu lolos lampu merah rasanya cukup menyiksa. Aku bayangkan 15 menit di jalan tol mungkin aku sudah bisa lebih jauh dari Cibubur, atau dari Pondok Indah mungkin sudah keluar di BSD..
Tiba-tiba kaca mobilku diketok-ketok oleh pengamen. Anak ini memang sering aku kasih uang , kadang-kadang sisa-sisa kue dan uang. Ia jadi seperti langganan.
“Oom lagi nglamun yaa……..’ kata anak itu ketika kaca kubuka.
Anak ini tampaknya mulai tumbuh menjadi gadis kecil. Paling tidak di dadanya sudah mulai terlihat tonjolan sebesar buah duku.
Hari itu aku kebetulan tidak punya uang receh 1000 an, juga tidak ada kue atau kacang. Kuperiksa kantong atasku ada selembar 5000 an.. “Masak kasi 5000, bandar bisa rugi lama-lama,” kataku dalam hati.
Selagi bingung mencari uang kecil mobil depan ku maju sekitar 30 m. Aku pun bergegas mengikuti arus maju. Anak ini cerdik juga dia naik ke footstep yang memang ada di samping mobilku sehingga dia ikut melaju perlahan ke depan. Karena kaca jendela terbuka maka dia mengapitkan kedua tangannya ke bagian dalam jendela mobil. Secara tidak sengaja teteknya yang baru numbuh menekan lengan kanan ku.
Aku tergugah dan ketika mobilku berhenti lagi di antrian., dia tetap bergayut dan hampir setengah badannya masuk ke dalam mobil..
“Kamu mau nggak 5000,”
“Mau dong Oom”
“Tapi oom pegang ya tetek mu,”
“Ih oom genit, malu kan oom banyak orang,”
“Kalau oom pegang gini siapa yang liat,” kataku sambil tangan kananku beraksi menekan tetek kirinya.
“Aduh oom, sakit,” katanya.
Aku memang kurang kontrol menekan terlalu keras, maklum situasi darurat .
Dia nampaknya tidak keberatan teteknya ditekan-tekan dari luar bajunya, mungkin mendapatkan 5000 baginya lebih berharga daripada harus mempertahankan teteknya tidak kusentuh.
“Eh jangan cerita ke temen-temen lu kalau gua kasih 5000, nanti gua nggak mau kasih lagi kalau lu nggak jaga rahasia,”
“ Beres bos,” katanya sambil turun dan senyum-senyum.
Aku pun melaju lolos dari lampu merah.
Acara pegang tetek jadi kegiatan rutin, dan caranya sama yakni dia bergayut di mobil ku dan mobil bergerak perlahan-lahan mengikuti antrian. Setelah 4 kali mungkin aku bisa merogoh teteknya dari bagian bawah bajunya. “Rasanya empuk dan mengkal,”
Aku tidak melihat dia bereaksi terangsang atau apa lah. Dia hanya senyum senyum sambil nyodori tetek kecilnya. Lama-lama bosan juga aku megangin tetek tetek buah duku, karena jadi hafal bentuk dan besarnya, jadi tidak ada sensasi lagi.
“Jangan gantungan entar jatuh, gua bisa ditangkep polisi nanti , masuk aja deh duduk di samping gue sini,” kata ku suatu kali setelah dia akrab.
Tanpa pikir panjang dia berputar dan langsung membuka pintu.
Kebetulan jalan hari ini macet berat, jadi antrian makin panjang.
“Sekarang oom mau kasih 10000, tapi oom mau pegang memek mu, mau nggak,”
“Ih malu ah oom,”
“Kan oom nggak buka baju lu , oom cuma ngrogoh aja sebentar, gimana mau ?”
Dia berpikir sebentar lalu, “ Jangan lama-lama ya oom”
Segera saja tangan kiri ku menuju sasaran dan menyelinap dari bagian atas celana dalamnya.
Aaah jembutnya belum ada, masih gundul dan mekinya cembung . Pelan-pelan aku cari lubang vaginanya dan terasa masih rapat sekali. Dengan jari tengah aku gesek perlahan-lahan.
Sialan mobil depan sudah maju jauh sekali. Terpaksa tangan kiri kulepas untuk mengubah posisi persneling.
“Udah ya oom”
“Belum sebentar lagi dong”
Kini sandaran kursi aku agak rebahkan sehingga posisi tangan ku lebih leluasa. Dan aku tidak mengubah posisi persneling diposisi 2. Kaki kiriku terpaksa bertahan menginjak kopling.
Asyik banget rasanya. Sekitar 1 menit aku sudahi dan aku tegakkan lagi senderan tempat duduk, dan 10000 pun berpindah tangan..
Jari tengah tangan kiri ku rada-rada bau amis.
Ritual itu hampir tiap hari kulakukan, dan uang 10000 sudah disiapkan sebelumnya.
Tidak setiap kali dia naik aku selalu merogoh. Kadang-kadang bosan juga. Tapi dia tetap naik di samping kiri ku. Kesempatan sekitar 15 menit mengantri kemacetan kugunakan mengorek kehidupannya.
Dia anak sulung , tinggal hanya bersama ibunya dan 2 adiknya serta seorang nenek. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci. Mereka mengontrak rumah petak dengan bayaran per bulan 300 ribu. Neneknya terlalu tua dan sering sakit-sakitan. Anak ini meski baru berusia sekitar 11 tahun, tetapi dengan ngamen di lampu merah dia menjadi andalan keluarganya untuk sumber kehidupan di rumah mereka.
Ayahnya tidak jelas kemana. Dari ngamen setiap hari dia bisa mengumpulkan minimal 20 ribu dan kalau lagi nasib baik bisa sampai 50 ribu. “ Tapi itu jarang oom, belum tentu sebulan sekali,” katanya.
Meski baju yang lusuh dan aroma anak jalanan yang kecut, tetapi anak ini punya bibit bagus. Wajahnya cukup manis dan badannya cukup proporsional.
Dia mengaku masih sekolah kalau pagi. Dia ngakunya baru kelas 3. Bagi anak gedongan umur 11 tahun mungkin sudah kelas 5. “ Saya dulu sempat brenti setahun, nggak ada biaya sih oom.”
Mengamen membuat dia bisa kembali sekolah. Dia mengaku berangkat dari rumahnya sekitar 5 orang, semuanya anak kecil-kecil dan salah satu adiknya perempuan berumur 7 tahun.. Mereka tinggal bertetangga. “ paling rame kalo sore oom banyak yang kasih duit, kalo siang jarang sih, abis jalannya nggak gitu macet sih,” katanya.
Sekitar sebulan aku jadi lebih mengenal dirinya dan memahami lingkungan hidup keluarganya.
Suatu hari hujan rada gerimis dan lampu merah mati. Akibatnya kemacetan parah sekali. Aku masih jauh dari titik pertemuan pick up yang biasa. Mungkin sekitar 500m lebih hulu. Dari jauh kulihat Wiwik, begitu dia memperkenalkan namanya berjalan melawan arus mobil yang sedang antri. Dia kelihatannya diikuti oleh gadis sebayanya . Lalu dengan tanpa canggung kedua-duanya masuk ke kursi depan. Mungkin karena masih kecil mereka muat duduk di kursi depan berdua. Wiwik di sebelah dalam dan temannya di sebelah luar.
Kaca mobilku memang tidak tembus pandang, jadi aman-aman saja.
“ Oom ini temen wiwik, kasihan dia oom “
“Kenapa”
“Udah 3 bulan nggak bayar sekolah, mau dikeluarin kalau besok nggak bayar,”
“Maaf ya oom saya akhirnya cerita sama dia tentang oom, katanya dia mau kayak saya, yang penting bisa bayar sekolah,”
“Berapa butuhnya,” kataku sambil memutar otak mengatur skenario.
“Seratus ribu,”
“Pinjem dulu deh Oom ,” kata wiwik setengah merayu ku
Kulirik ke kiri, boleh juga cukup manis, Cuma agak gemuk sedikit. Badannya kelihatan rada sekel.
“Emang wiwik cerita apa,” Tanya ku.
“Ya gitu deh oom dipegang-pegang’
“ Apa kamu nggak malu kalau oom pegang-pegang,”
“ Biarin deh oom daripada dikeluarin dari sekolah.
“ Orang tuamu kerja apa kok sampai lambat bayaran sekolah”
“Bapak udah 2 tahun dirumah, sakit stroke, Ibu jualan gado-gado di rumah”
“abang saya masuk penjara, ketangkep narkoba, tauk keluarnya kapan, katanya sih lama,”
Kamu anak keberapa?”
“Kedua”
Sekarang klas brapa”
“Saya klas 4”
Umur”
“12 tahun”
Aku jadi termenung, ngenes juga mendengar kisah anak ini.
Kami terdiam sesaat.
“Ayo dong oom cepetan” katanya menyadarkan lamunananku.
“Cepetan ngapain,” kata ku berlagak bloon.
“Pegang,” katanya.
“Lu udah pernah pa belom dipegang-pegang.”
“Ya belom oom , kan aku masih kecil
“Tik turunin celana lu , Oom ini gimana caranya biar senderannya kebelakang,” kata wiwik.
Aku rebahkan senderan kursi itu. Wiwik aku suruh melompat ke kursi belakang.
Dari belakang wiwik menyergah temannya.
“Ayo cepetan, “
Atik dengan agak ragu menurunkan celana dalamnya dan mengangkat kaosnya. Tersembullah sepasang gundukan di dadanya yang agak besar, mungkin sebesar bola pingpong, lebih besar dari wiwik punya. Dan di bawahnya juga gundul seperti wiwik tetapi kelihatannya lebih menonjol. Mungkin si Atik agak gemuk, maka memeknya juga tembem.
Tangan kiri ku segera beroperasi. Mula-mula bagian atas, setelah puas lalu bagian bawah. Mungkin karena waktunya agak panjang, sang memek menjadi lembab dan lama-lama jadi basah. Atik terangsang karena sentuhan ku terpusat di clitnya.
100 ribu melayang.
Sejak itu aku diservice atau menservice 2 anak itu. Kemacetan lampu merah jadi kurang lama rasanya, sehingga kencan jadi memanjang dengan masuk ke wilayah 3 in 1. .
Mereka berdua sudah tidak canggung lagi mempertotonkan bagian yang paling rahasia, kencan unik ini mungkin sudah berjalan 3 bulan.
“ Oom ajak kita jalan-jalan dong ke Ancol, kita belum pernah liat dufan oom”
Aku terhenyak.Anak umur 11 tahun, mengajak aku berkencan ke Dufan.
Kalau hanya ke Dufan aku jengah juga. Menggembala 2 anak , sedang aku di usia ku rasanya tidak cocok punya anak sekecil ini.
Kendala lainnya, kalau aku jalan dengan mereka, terlihat benar kesenjangannya, sehingga orang segera tahu bahwa anak-anak itu bukan keluarga ku.
Jadi aku harus dandani mereka sehingga mereka tampil sesuai dengan suasana di Dufan dan agar tidak terlihat juga kesenjangan di antara kami. Aku bukan mau itung-itungan, tapi biaya yang dikeluarkan untuk one day trip itu lumayan besar juga.
Sebelum terlanjur nggak ketentuan arah dan aku tidak bisa mengontrol, perlu rasanya ada penelusuran lebih jauh.
“ Kalian selama ini kan dapat duitnya banyak, apa orang tua kalian nggak curiga”
“Nggak tuh” kata Atik.
“Sekarang malah aku yang beli beras, minyak tanah, gula kopi segala, abis nyak dapetnya nggak seberapa. Katanya orang yang nyuciin baju sekarang agak sepi’ ujar Wiwik..
“Kalo misalnya oom beliin baju baru, apa orang tua lu pada nggak curiga,”
“Boro-boro curiga, malahan kalau bisa emak juga minta dibeliin baju,” kata Atik.
“Ya nyak gua juga malahan keliatan seneng kalo aku bisa beli baju ,” ujar Wiwik.
Dalam hati aku membantin sedih. Begitu kerasnya kehidupan ini sampai-sampai ada keluarga yang terpaksa menyandarkan sumber pendapatannya dari anak yang seharusnya belum waktunya berpikir menafkahi keluarga.
Akhirnya aku setujui berpelesir ke Dufan. Aku pengin dandani mereka agar bisa tampil cantik dan imut seperti anak-anak orang berada. Rasanya sih kedua anak ini kalau didandani bakalan bagus.
Eksekusi ditetapkan hari sabtu dan pick up point di depan supermaket Hero. Jam disepakati , 9 pagi.
Aku agak terlambat karena kesiangan bangun, sehingga sampai di meeting point jam 9.30.
Oom kemana aja sih kita udah lama nunggunya, sampai kepanasan. Atik berceloteh. Dia memang lebih agresif dibanding Wiwik.
“Ya oom kesiangan, abis tadi malam ngelembur”
“Ngelembur apa lembur,” kata atik menggoda.
“Buset anak ini berani amat melontarkan godaan yang berisi.”
Aku memilih Milenia untuk membeli perangkat mendadani dua anak pengamen ini. Mereka senang dan bingung menentukan pilihan. Lirikan menyelidik dan ada nuansa curiga terpancar dari pramuniaga yang melayani. Mereka mungkin memikirkan apa hubunganku dengan dua anak kumuh itu.
Di mobil tadi sebelum turun belanja, aku instruksikan ke anak-anak itu agar nanti di depan umum jangan panggil aku Oom, panggil Pakde. Rasanya ada kesan yang beda antara sebutan Oom dengan Pakde. Paling tidak panggilan Pakde bisa rada memositifkan kesan, dari pada oom.
Aku pilihkan mereka dua stel masing-masing jean biru dengan T Shirt, dan celana pendek cerah dengan atasan tank top. Kami berkeliling sekitar 2 jam sampai mereka bisa ganti kulit komplit. Mulai dari sepatu, kaus kaki, celana, kaus sampai ikat rambut kini sudah mereka miliki.
Tampilan mereka kini sudah modis, dan tidak terlihat lagi sebagai anak jalananan. Aku atur agar mereka berganti baju di toilet.
Hampir sejuta lenyap untuk mendadani dua anak ini.
Sesampai di Dufan keadaan agak lengang. Jam 1 siang tour de dufan dimulai. Jam 5 mereka sudah lelah dan akhirnya mengajak pulang.
Aku menyarankan berenang sampai jam 7 biar badan segar dan capeknya ilang. Saran itu mereka sambut dengan antusias, tapi mereka tidak punya baju renang.
Tak masalah di Gelanggang Renang ada baju renang untuk seukuran mereka.
Kami lalu menuju Gelanggang renang dan mengambil kamar bilas keluarga. Baju renang sekaligus dengan kacamatanya, sudah membuat mereka bergembira setengah mati.
“Oom wiwik nggak bisa berenang,”
“Atik juga oom”
Ya kita nanti cari yang dangkal aja, disitu belajar renang.
Dadaku berdebar-debar dalam perjalanan menuju kamar ganti keluarga. Membayangkan situasi nantinya .
Di dalam kamar ganti aku segera melepas semua pakaian ku kecuali celana dalam. Mereka aku minta telanjang . Permintaan itu tentu saja tidak canggung mereka lakukan karena memang sudah terbiasa selama ini.
Kami pun bertiga telanjang dan batangku segera saja berdiri tegang.
“Iih om ngaceng ya”
“Iya nih abis liat kalian cantik-cantik telanjang sih”
Oom boleh pegang nggak , tanya Atik.
“Pegang aja”
Keduanya lalu mendekat dan meremas.
Aku duduk di lantai kamar mandi bersandar dinding.
Keduanya merasa lucu melihat bentuk penisku dengan topi baja yang memerah karena ereksi maksimum.
Setelah rasanya hampir nembak aku minta mereka berhenti dan sekarang aku giliran mengobel-obel keduanya.
“Enak nggak sih di kobel gini,”
“Enak-enak geli oom, kata wiwik.
“Mau yang lebih enak lagi nggak,”
Gimana Oom, tanya Atik.
Aku dudukkan Atik di tempat yang lebih tinggi sehingga aku bisa bersimpuh diantara kedua kaki ku.
“Diem ya “ kataku
Aku jilati sekitar kemaluan Atik .
“Ih geli oom”
Aku tidak memperdulikan sambil tanganku meremas perlahan kedua tetek kecilnya.
Kini jilatanku terpusat ke clitnya dan bertahan disitu sampai dia mengelinjang-gelinjang.
Atik lost control dia melenguh dan nafasnya memburu.
“Aduh oom……….” tiba-tiba kedua kakinya menjepit kepalaku dan vaginanya berdenyut.
“Kenapa Tik,” tanya wiwik
Wiwik terdiam sebentar menuntaskan orgasmenya , “gila enak banget..
“Aku juga dong oom protes Wiwik.
Aku perintahkan wiwik mengantikan tempat Atik dan segera aku eksekusi. Kurang dari 5 menit Wiwik pun mengerang tertahan dan menjepit kepalaku.
Kini giliran ku minta di sepong. Mereka pertama protes, jijik, katanya. Tapi sisa nafsu yang tertinggal di dalam diri mereka dan hasutan ku agar perbuatan kita seimbang akhirnya keduanya mau juga bergantian menghisap batang ku yang sudah mengeras sempurna.
Tidak sampai 2 menit semburan larva putih melesat. Aku belum tega melepas cairan putih itu di dalam mulut mereka.
Kami mandi di pancuran bertiga, bercanda dan berpeluk-pelukan di bawah semburan air.
Acara selanjutnya tentu berenang. Di depan umum aku tidak berani terlalu akrab dengan mereka. Apalagi kalau mereka nanti secara tidak sengaja panggil-panggil aku Oom. Sebelumnya aku sudah tekankan di kolam renang kita seperti nggak kenal ya , jadi jangan panggil-panggil aku. Kalau memang perlu banget pake isyarat aja dan ngomong pelan-pelan.
Apa kata dunia kalau orang disekelilingku tau aku menggembala dua gadis cilik.
Udara malam membuat kami tidak bisa bertahan lama di kolam renang. Hanya sejam akhirnya kami mentas. “Dingin ya oom” kata wiwik lirih.
Kami kembali ke kamar bilas.
Disitu kami telanjang lagi dan kembali berpeluk-pelukan.
Mereka berdua bergantian aku ciumi dan remas-remas teteknya serta memeknya.
“ Oom kayak tadi lagi dong, enak,” kata wiwik.
“ Iya oom enak deh,” sambung Atik.
Aku akhirnya menjadi slave kedua anak kecil ini melayani mereka berdua bergantian sampai puas.
“Sekarang giliran oom kalian layani”
“ Aku buka handuk yang setengah basah di lantai kering sebagai alas dan atik serta Wiwik kuperintahkan berbaring .”
Pertama aku mencoba memasukkan senjataku ke lubang kenikmatan wiwik.
“Oom mau ngewek aku ya,” kata Wiwik.
“ Ini lebih enak, dari pada dijilati,” kata ku.
“Masak sih oom, apa muat barang nya oom masuk ke memek ku,” kata wiwik
“Ya kita coba aja, pelan-pelan,”
Memang susahnya bukan main. Hanya untuk membenamkan kepala topi baja saja rasanya seperti nabrak lubang buntu. “ Kayak nggak ada lubangnya, sebab sang topi baja ini meleset terus.
Kucoba melumuri ludah di ujung barang kesayanganku . Baru jalan agak licin, kepala barang bisa tepat berada di lubang kenikmatan wiwik.
“Aduh oom perih oom, kata wiwik agak meringis dan dari matanya meleleh air mata.”
Sabar sebentar lagi pasti enak. Aku berusaha terus membenamkan barang ku sampai akhirnya menembus segel. Terasa ada yang pecah di dalam dan Wiwik menjerit kecil sambil menarik pantatnya menjauh . Aku bisa membenamkan 100 persen barang ku dan kubiarkan dia terbenam agak lama untuk penyesuaian. Setelah Wiwik tidak merasakan perih lagi, perlahan-lahan mulai ku goyang .Sempitnya luar biasa memek perawan 11 tahun ini. Sampai sampai barang ku seperti kejepit pintu. Aku mulai bisa agak lancar mendorong dan menarik barang ku. Tapi Wiwik masih merasa sakit.
Akhirnya kutarik semua barang ku dan kusuruh Wiwik istirahat.
Atik yang dari tadi memperhatikan pergumulan kami, rupanya ikut terangsang.
“Tik sekarang giliran mu, Aku buka lebar lebar kakinya dan aku tekuk sehingga lobang memeknya merekah merah.”
Barang ku yang agak merah, mungkin terkena darah perawan Wiwik aku lumari kembali dengan ludah. Posisi Atik mengangkang lebar memudahkan kepala kontolku menemukan lubangnya. Meski pun begitu untuk memasukkan kepala saja, harus penuh dengan perjuangan dan kehati-hatian. Masalahnya kalau diperlakukan kasar, anak ini bisa menangis kesakitan.
Pelan-pelan ku desakkan kepala kon ku ke dalam meki Atik yang tembam. Relatif penerobosan memek Atik lebih mudah meskipun kemudian masih terhalang, seperti menemukan jalan buntu.
Selaput perawan Atik aku terobos pelan-pelan. Tak urung Atik pun menjerit kecil ketika perawannya pecah. Air matanya juga meleleh. Dia meringis menahan sakit.
Semua barang kesayanganku terbenam dan aku pelan-pelan memompa. Memek perawan memang luar biasa sempitnya . Topi baja ku sampai terasa ngilu seperti mau dilepas saja rasanya.
Aku tidak berani bergerak maju mundur telalu jauh. Sempit banget sih, jadi ngilu juga rasanya. Jepitan memek perawan membuat aku tidak bisa bertahan lama. Larva pijar berwarna putih tidak bisa dibendung lagi dan akhirnya menyembur di dalam memek Atik.
Aku tidak khawatir mereka hamil, karena keduanya belum mendapat haid.
Setelah ritual penting itu kami kembali mandi bertiga di bawah pancuran.
“ Oom perih nih oom” kata Atik.
Iya oom kalau kencing rasanya perih.”
Coba kalian jalan.
Mereka agak kaku melangkah karena ada rasa sakit diselangkangannya.
Jam 9 malam mereka ku lepas di dekat tempat tinggalnya. Masing-masing kugenggami limaratus ribu. Aku berpesan kepada mereka, jika orang tua mereka Tanya soal uang, baju dan sepatu, bilang mereka mendapat bapak asuh.
Memang akhirnya mereka menjadi anak asuh ku.
Setiap bulan aku beri lima ratus ribu dan kalau kami berkencan ku beri dua ratus. Kami sering main bertiga. Dan pertemuan itu rutin setiap minggu, hanya beda hari saja.
Atik dan Wiwik bahkan memperkenalkan teman sebayanya yang katanya juga butuh duit. Pertama semua peluang kenalan teman sebayanya kulayani, ada yang lebih cantik ada yang kurang cantik. Aku dapat perawan sampai lebih dari 10 dalam waktu setengah tahun.
Sampai akhirnya aku bosan dan menolak tawaran mereka. Sebab ternyata banyak sekali yang ditawarkan, sampai-sampai aku kewalahan.
Atik dan Wiwik sampai sekarang masih menjadi anak asuhku, Dari ku mereka setiap bulan setidaknya mendapat sekitar 1,5 juta.
Aku pun akhirnya diperkenalkan kepada orang tuanya. Dan orang tuanya sangat berterima kasih karena aku mau mengangkat anak asuh dari anak mereka.
Kalau dulu aku yang melayani mereka, sekarang aku berperan pasif, mereka lah yang mengolah dan melayaniku.
Pernah suatu kali aku membuat sensasi dengan membawa 10 anak . Aku menyewa apartemen yang bisa disewa harian . Resepsionis apartemen mengira aku menggembala para keponakan . Padahal mereka semua “kepenakan”
Kami menginap semalam di situ dan selama itu kami hidup bertelanjang dan orgy setiap aku ngaceng. Gila aku seperti Raja Minyak, Atau mungkin Pangeran Caligula yang dikelilingi cewek-cewek telanjang.
Suatu saat nanti akan akan mengajak 2 teman-teman ku penggemar pedo untuk join melakukan orgy party. Kalau mereka kuat sih aku mau ajak ke Bali selama seminggu. Aku belum bisa membayangkan gimana serunya kalau kejadian itu bisa menjadi kenyataan.

Kecelakaan Pembawa Nikmat

Cerita ini bermula dari kecelakaan kecil yang menimpaku. Seperti biasa, sore hari aku menyempati jalan-jalan dengan motor kesayanganku, dengan memakai jeans dan jaket kesayanganku, dengan kecepatan yang tidak begitu cepat. Aku lihat ke kanan dan ke kiri, tiba tiba ada motordari belakang dengan kecepatan tinggi menyerempetku. Sekilas aku kaget dan berusaha minggir, tapi sial aku malah jatuh karena tepi jalan itu ada batu batu kecil yang menyebabkan ban motorku tergelincir dan akhirnya aku tertimpa motor dan yang menyerempetku tadi langsung tancapgas (kabur)! Setelah itu aku berusaha bangun dengan pertolongan orang orang di sekitar situ. Aku terluka di bagian kaki (paha atas, lengan atas dan dada), sebenarnya luka ini tidak begitu serius bagiku, tapi aku kagum sekali dengan pertolongan orang-orang di sekitar situ yang penuh simpatik.
Setelah beberapa detik kejadian itu, aku langsung dibawa ke dalam sebuah rumah dekat kejadian. Ya, seperti biasa menghindari campur tangan polisi. Setelah aku dimasukkan di dalam sebuah rumah dan motorku di depan rumah itu, aku disuruh duduk oleh seorang cewek yang ternyata pemilik rumah itu. “Adik duduk aja di sini, biar ibu ambilin obat ya..” kata cewek itu dan segera masuk ke dalam kamarnya yang letaknya di depanku. Perkiraanku cewek ini umurnya sekitar 36, meskipun umurnya ya.. cukup tua sih. Tapi cewek ini bodinya oke sekali deh, tingginya sekitar 165 cm susu yang montok berukuran sekitar 36B dan masih terangkat dengan menggunakan kaos yang longgar dan pantat yang besar sekali karena pada waktu itu dia pakai rok pendek sampai lutut dan kelihatan betis yang mulus dengan ditumbuhi rambut halus. Aku sempat berkhayal untuk memegang pantatnya yang besar sekali, kuremas-remas sambil memasukkan jariku ke lubangkenikmatannya.
Setelah beberapa menit dia mencari obat merah di kamarnya, dia memanggil anaknya, “Sri.. Sri..ambilin minum tuh.. buat Mas-nya!” ternyata dia punya anak perempuan yang namanya Sri, umurnya sekitar 17 tahun. Setelah berhasil menemukan obat merah, lalu menghampiriku,
“Wah.. ini lukanya parah sekali Dik..” sambil membuka tutup obat merah.
“Ah.. nggak kok Bu.. biasa aja kok,” kataku sambil memperhatikan susunya yang montok tergelantung itu.
“Nama Adik siapa?” tanya ibu itu sambil meneteskan obat merah di lengan atasku.
“Joko Bu, aduh pedih sekali.. pelan-pelan Bu..!”
“Maaf ya.. Dik Joko, oh ya nama ibu Neneng,” katanya sambil meneteskan ulang obat itu di lengan atasku.
Dan tidak disengaja susu Neneng itu menyenggol sikuku.”Oh.. maaf Bu.. tidak sengaja,” tanyaku sambil melihat susu Neneng yang membuat penisku agak tegang.
Dia hanya tersenyum dan tertawa kecil.
“Lho.. Dik Joko yang kena yang mana lagi, kelihatannya celana kamu sobek tuh..” katanya sambil memegang celanaku yang sobek itu.
“Ya.. Bu itu di bagian paha atas dan di dada ini,” sambil membuka sedikit kaos yang kupakai.
“Yang ini harus diobati loh, entar kalau tidak cepet diobati berbahaya, kaki kamu bisa di luruskan nggak?” kata Bu Neneng.
“Agak linu Bu.. karena bagian paha sih..” kataku sambil mencari kesempatan melihat susu.
Pada waktu itu tepat dudukku tidak memungkinkan aku meluruskan kakiku.
“Ya.. sudah ke kamar Ibu dulu situ berbaring biar kakimu bisa diluruskan,” kata Bu Neneng sambil membantuku berdiri dan berjalan.
“Ya.. Bu.. tapi..?” tanyaku ragu.
Nanti disangka macam-macam, tapi memang niatku untuk berusaha nge-sex sama Bu Neneng yang montok itu.
“Tapi apa, oh.. kamu malu ya.. nyantai aja kamu kan teluka dan perlu pengobatan, sudah masuk ayo Ibu bantu!” sambil melingkarkan tangan kanan di pundak Bu Neneng aku berjalan.
Dan tidak disengaja waktu berjalan, jari-jariku menyentuh permukaan susu montok Bu Neneng tapi aku tidak merubahnya, malah kugesek-gesekkan dengan pelan-pelan agar tidak ketahuan kalau disengaja, terasa puting susu Bu Neneng yang kenyal menyebabkan penisku tegang. Dan sampailah di tempat tidur Bu Neneng.
“Sudah Dik Joko, mana yang luka lagi?” sambil duduk di sampingku dan membelakangiku sementara aku terlentang, otomatis tanganku menempel di paha mulus Bu Neneng.
“Di dada sini Bu,” kataku sambil membuka ke atas kaosku agar kelihatan lukanya.
“Ya.. sudah dilepas dulu kaosnya, entar kalau kena obat ini kan jadi merah,” katanya basa-basi.
Aku langsung buka kaosku, dan sekarang aku telanjang dada.
“Nah gini kan bisa leluasa mengobati kamu,” sambil mendekat ke dadaku, dan otomatis aku melihat dengan jelas susu Bu Neneng tergelantung dan ditutupi oleh BH yang tidak muat menampung besarnya susu Bu Neneng dan tanganku makin kurapatkan ke paha dan sekarang sudah di ataspaha mulus Bu Neneng. Dan pada waktu Bu Neneng meneteskan obat, aku terasa pedih dan dengan refleks tanganku terangkat sehingga menyenggol susu Bu Neneng dan rok mini Bu Neneng terangkat ke atas, terlihat paha yang mulus itu.
“Maaf ya.. Bu, Joko tidak sengaja kok,” pintaku sambil menurunkan tanganku ke paha Bu Neneng yang mulus dan putih itu.
“Ya.. tidak apa-apa kok,” sambil meneruskan meneteskan lagi di bagian dadaku yang luka.
Sekarang dia agak ke atas dan membungkukkan dirinya, otomatis susu yang montok itu dekat sekali dengan wajahku itu. Aku tidak tahu ini disengaja atau tidak, tapi buatku disengaja atau tidak tetap saja membuat penisku makin tegang. Lama-lama kok posisi Bu Neneng makin membungkuk dan sampai suatu saat susunya tersentuh dengan mulutku. Wah, terasa kenyal dan empuk, aku tidak diam saja, aku berusaha pelan-pelan menggeser tanganku yang di paha mulus Bu Neneng itu, pelan dan pelan karena aku takut Bu Neneng marah karena ulahku ini. Dengan nafsu yang kutahan, aku gerak-gerakkan tanganku. Waduh.. paha orang ini mulus sekali, batinku sambil merasakan penis yang menegang kepingin lepas dari sangkarnya (CD-ku), dan sampailah aku di pangkal paha Bu Neneng itu dan menyentuh CD Bu Neneng yang kelihatan memakai CD warna hijau kembang dan kepalaku bergerak ke kanan dan ke kiri untuk menggesek susu Bu Neneng (pelan-pelan), dan sesekali kujilat halus susu montok itu, waktu itu Bu Neneng diam saja dan terus mengobati dadaku yang luka tapi nafas Bu Neneng tidak bisa disembunyikan, sering dia menarik nafas panjang untuk menahan nafsunya.
“Sudah nihh.. Semua luka kamu di dada sudah diobati, sekarang mana lagi yang terluka?” sambil melihatku dan membiarkan tanganku di pahanya yang mulus itu.”Itu Bu.. di paha atas,” jawabku sambil menunjukkan tempat yang luka.”Wow.. Ya ini harus dibuka Dik Joko, kalau tidak dibuka dimana ibu bisa mengobati apalagi kamu pakai jeans yang ketat.. ya sudah dicopot aja!” jawab Bu Neneng sambil melihat dengan dekat luka dari luar celanaku dan sesekali lihat penisku yang sudah tegang dari tadi.
“Bu.. bisa bantuin copot celanaku, aku tidak bisa copot sendiri Bu, kan tanganku luka,” alasanku agar Bu Neneng bisa lihat penisku dari dekat.
Tiba-tiba Sri datang dengan membawa air putih.
“Bu ini airnya..”
“Ya.. sudah sekarang kamu keluar, e.. jangan lupa tutup pintunya, ibu mau obati Mas Joko dulu!”
Wah ini kesempatanku untuk melampiaskan sex-ku. Setelah itu Bu Neneng mulai membuka resleting celanaku dan membuka bagian atas dan aku mengangkat sedikit pinggulku supaya Bu Neneng mudah melepas celanaku. Saat membuka celanaku, posisi Bu Neneng membungkuk sehingga mulutnya dekat dengan penisku yang tegang, dan aku sengaja mengangkat pinggul yang lebih tinggi dan tersembullah penisku dan mulut Bu Neneng.. “Sorry Bu.. tak sengaja,” mulai saat itu penisku mulai tegang sekali karena cara Bu Neneng membuka celanaku sangat merangsang penisku.
Sambil sedikit menungging dan menggerakkan sedikit pantat yang besar itu, Bu Neneng melepas celana jeans-ku (apa ini usaha Bu Neneng untuk merangsang nafsuku), dan akhirnya aku sekarang tinggal pakai CD. Dan mulailah Bu Neneng mengobati paha atasku dengan posisi nungging membelakangiku dan sedikit siku tangannya menyentuh penis yang sudah tegang. Sesekali BuNeneng melihat penisku dan menggesek-gesekkan sikunya di penisku itu. Dengan melihat gelagat Bu Neneng ini yang memberi peluang padaku, aku tidak diam aja. Dengan melihat pantat yang besar menghadap kepadaku, tanganku mulai sedikit meremas-remas dan mengelus betis lalu menuju ke atas paha yang mulus dan akhirnya aku sampai ke paling atas (pantat mulus Bu Neneng) dan aku nekat mengangkat rok mini Bu Neneng ke atas sehingga sekarang terlihat pantat Bu Neneng yang mulusitu dengan ditutupi CD yang menyelepit di belahan pantat.
Aku mulai mengelus-elus, dan sesekali menarik CD Bu Neneng dan ternyata sudah basah dari tadi.Lalu aku memainkan jariku di permukaan vagina yang tertutup CD itu, Bu Neneng mungkin sudah tahu gelagatku itu sehingga dia merenggangkan kedua pahanya, jadi sekarang terlihat jelas CD Bu Neneng yang basah. Sekarang aku memberanikan diri untuk melihat secara langsung vagina Bu Neneng yang kelihatan sudah tidak sabar untuk dimasuki rudalku yang sudah tegak berdiri. Akumulai menggeser CD Bu Neneng ke kiri dan kelihatan dengan jelas vagina Bu Neneng yang sudah memerah itu. Lalu aku perlahan-lahan menggesek-gesekkan jariku di permukaan vagina Bu Neneng dan dengan reaksi itu nafas Bu Neneng mulai tak beraturan, “Eeehh.. ahh.. ohh hemm..” dan sekarang aku memasukkan jari tengahku ke lubang kenikmatan Bu Neneng dengan pasti dan kukocok dan terus kukocok dengan pelan-pelan dan lama-lama semakin cepat dan.. “Ah.. oh yes te.. rus.. please.. ah.. ohe.. lebih dalam.. Jook.. ” Bu Neneng mulai membuang obat merah itu dan sekarang tidak mengobati lukaku lagi malah sekarang dia sudah mulai mengocok dan meremas dengan kuat penisku.
Aku kurang puas dengan posisi ini, aku mulai mengangkat salah satu kaki Bu Neneng ke sampingku dan sekarang posisi 69 yang kudapat, dan vagina Bu Neneng tepat di depan mulutku. Aku mulai menjilat klitorisnya, dan kusedot kecil dan kupermainkan pinggir vagina Bu Neneng dengan lidahku yang indah itu. “Oh.. ya.. enak sekali hisapanmu Jok.. Oh aughh ahh yes.. terus!” dan aku mulai memasukkan lidahku ke dalam lubang yang basah itu dan terasa asin tapi gurih.
“Oh.. ah.. terus.. kontol kamu tegang sekali Joko..”
“Ya.. Bu jilat.. jilat dong..!”
Tanpa banyak kata Bu Neneng terus melumat habis penisku.
“Oh.. ya.. ya.. terus yang keras lagi..!”
Bu Neneng memang lihai dalam hal oral, tidak satu bagian pun dari penisku yang terlewatkan dari lidah birahi Bu Neneng. Telur penisku terlahap juga dengan mulut binalnya. Bu Neneng tidak puas sampai di situ, sekarang dia mengangkat pantatku lebih tunggi dan kelihatan jelas lubang anusku dan sekarang mempermainkan lidahnya di lubang anusku. Oh, terasa geli bercampur nikmat sampai ujung rambut, pada waktu itu juga Bu Neneng tidak kuat menahan nikmat yang dia rasakan, dan aku tahu kalau Bu Neneng mau orgasme yang pertama kalinya, aku mempercepat gerakan lidahku diklitorisnya, dan mempercepat kocokkan jariku di vaginanya dan akhirnya.. “Jo.. ah ye.. yea.. aku tidak tahan Jok.. a.. ku.. ke.. luaar..” dan “Serr.. serr..” terasa semprotan kuat dari vagina Bu Neneng kena jariku.
Cairan putih kental yang keluar dari vagina Bu Neneng kusedot habis sampai bersih cairan kenikmatan Bu Neneng tersebut. Dia sekarang tergeletak lemas di sampingku.
“Bu Neneng masih kuat? Apa cukup saja Bu?” tanyaku disamping memelintir puting susunya yangkuharapkan sex Bu Neneng kembali lagi dan terangsang.
“Ah.. kamu jantan sekali Jok! Aku tidak nyangka kamu kuat sekali, kamu belum keluar?” tanya Bu Neneng sambil mengocok halus kemaluanku yang masih tegang itu.
“Belum Bu! mau lagi atau..”
Belum aku berhenti ngomong Bu Neneng mulai memasukkan penisku ke mulutnya dan dijilat, disedot dan dikocok, sedangkan aku di pinggir tempat tidur dan Bu Neneng di atas tempat tidur denganposisi nungging, dan aku tetap meremas-remas dan sesekali kupelintir-pelintir puting Bu Neneng itu.
“Aah.. terus Bu..! lebih dalam Bu..! yes hemm Aah.. sesstt aahh..”
“Jok.. masukin aja ya.. aku pingin ngerasain penis kamu ini,”
Lalu aku memutarkan tubuh Bu Neneng dengan posisi nungging dan aku mulai mengarahkan penisku ke lubang Bu Neneng tapi aku tidak langsung memasukkan penisku, kugesek-gesek dulu ke permukaan vagina Bu Neneng.
“Ah.. ya.. masukkan Jok.. cepet aku tidak tahan nih.. oh.. ce.. pet!”
Aku langsung memasukkan ke lubang Bu Neneng.
“Bless.. slepp..”
“Ah.. ye..” erang Bu Neneng menerima serangan batang kemaluanku.Aku mulai memajukan dan memundurkan penisku dengan pelan tapi pasti dan sekarang aku tambah frekuensi kecepatan kocokanku.
“Ah.. ya.. penis kamu.. hebat Jok.. keras, te.. rus.. oh.. sst.. ah..”
Aku semakin terangsang dengan erangan Bu Neneng yang menggeliat-liat seperti cacing kebakar. Aku angkat kaki kanannya untuk mempermudah jelajah penisku untuk sampai ke rahimnya dan makin mempercepat kocokanku.
“Oh ya.. aughh.. sstt teruss.. jangan ber.. henti.. ah.. ke.. rass.. Joko.. hebat..”
Dan akhirnya,
“Jok.. lebih cepet..! aku mau ke.. luar.. aku.. tidak.. oh.. ye.. tahan.. la.. gi.. ah.. oh shh..”
Dan akhirnya dia menyemprotkan cairan kenikmatannya, “Serr.. serr..” terasa ujung penisku disemprot dengan cairan hangat yang kental. Sekarang Bu Neneng tergulai lemas di hadapanku. Aku memperhatikan tubuh Bu Neneng yang montok dengan susu yang besar, dengan telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.
Aku tetap mengocok sendiri penisku biar tetap tegang, dan aku mulai tidak kuat, mungkin ini waktunya aku untuk mengakhiri permainan sex-ku.
“Bu.. permisi, aku mau mengakhiri tugasku ini..”
Dengan mengangkat tubuh Bu Neneng ke pinggir tempat tidur, dan membuka lebar-lebar paha Bu Neneng sehingga terpampang vagina Bu Neneng yang masih basah dengan cairan kenikmatannya, aku mulai memasukkan penis dan mengocoknya.
“Ah.. kau nakal ya.. Jok.. aughh hemm.. terus Jok..”
Aku dengan semangat “45″ kukocok habis vagina Bu Neneng dengan menggesek-gesek klitorisnya dengan jari jempolku untuk mempercepat dia untuk orgasme ketiga kalinya, dan..
“Bu.. aku mau ke.. luar.. ah.. ye.. di.. mana.. ini.. dalam atau di luar.. oh ye!” sambil mempercepat kocokan jari dan penisku.
“Ya.. aku juga Joko.. uh.. uh.. hemm.. sstt.. kita.. barengan di dalam.. oh ye..”
Bu Neneng tidak kuat lagi ngomong kecuali merem-melek tahan nafsu, dan akhirnya aku keluar di dalam vagina Bu Neneng, “Crott.. crott..” sampai lima kali semprotan dan dibarengi dengan erangan dan getaran tubuh Bu Neneng, “Oh.. yak.. yes.. hemm..” Lalu kucabut penisku dan kupukul-pukulkan di permukaan vagina Bu Neneng dengan reaksi Bu Neneng mengangkat tubuhnya akibat vaginanya kupukul dengan penisku.
“Bu Neneng hebat sekali deh, makasih ya Bu..”
“Kamu juga hebat banget Joko.. Ibu sampai kualahan menghadapi kontol kamu yang tegap ini. Wah.. kontol kamu ini harus dibersihkan dulu ya..”
Dia langsung mengarahkan penisku ke mulutnya dan dilahap langsung dan dikocok-kocok habis.
“Wow.. oh.. ye.. teruus.. yess.. sseesstt ahh ya..”
Ini membuatku tegang lagi, dan Bu Neneng tak henti-hentinya mengocok dan mengulum penisku yang tegang sekali.
“Bu.. stop.. augghh he.. stoop aku.. tak.. tahan..”
Dan..
“Croot.. croott..”
Kukeluarkan spermaku untuk kedua kalinya di wajah Bu Neneng, dan aku tergeletak lemas di atas susu Bu Neneng.
“Nah.. sekarang kan Bu Neneng tidak kalah banget toh.. ya.. dua-tiga lah..!”
“Makasih ya.. Jok.. kamu hebat dalam permainan sex, kapan-kapan kita lagi ya.. sudah kamu tidur dulu deh!”
Lalu aku tertidur sampai malam, dan sebelum aku pulang ke kost-ku, sempat Bu Neneng minta untuk oral sekali lagi.
Itulah salah satu pengalamanku tentang sex. Bagi para cewek-cewek yang membutuhkan penyaluran sex yang aman dari penyakit apapun, aku siap melayani anda (oral, konvesional dan unkonvesional, dan lain-lain). Anda tidak akan rugi dengan sex yang yang aman dariku, hubungi aku di e-mailku, pasti kubalas. Yang jelas ya, yang pasti harus cewek tulen. Sampai jumpa dengan pengalaman sex yang paling aman dari penyakit apapun dariku. See you!!!

Sabtu, 02 Juni 2012

Gadis Kecilku Berusia 10 Tahun

Kenalkan dulu namaku wijaya. Aku wiraswasta umurku 34 tahun. Aku tinggal di salah satu kawasan elit di cibubur. Sudah 2 minggu ini istri dan anakku menengok orang tuanya jadi rumahku sepi. Sering teman-temanku ku ajak nginap di rumah untuk nemeni aku biar ga begitu sepi.
Malam itu seperti biasa aku dan 3 temanku rahmat, anto dan suryo kumpul dirumahku menghabiskan waktu dengan beberapa botol bir hitam yang dioplos dengan vodka dan jus jeruk. Pesta miras kami mulai jam 7 malam. Waktu berlalu tanpa terasa sudah satu krat bir dan tiga botol vodka habis tertenggak.
Kulihat jam tangan, dah jam sepuluh, kebosanan mulai menghinggapi kami.
Si anto akhirnya bilang kita jalan-jalan aja yuk, bosan nih. Kita semua sepakat, kuambil kunci avansa di atas kulkas. Kukeluarkan mobil dari garasi terus kuminta si rahmat yang nyopir. Rahmat berjalan pelan-pelan keluar area perumahan. “mau kemana bos?” tanya rahmat. “ke kota aja mat, Lewat belakang arah jatiasih trus masuk tol aja, nanti kita keluar di pintu sudirman aja” jawabku. “sip bos” ujar rahmat.
Selepas pintu tol kita jalan pelan, muter di semanggi trus masuk sudirman trus lewat monas. Anto dan suryo molor, mungkin karena dah terlalu mabuk. Jam sudah menunjuk jarum 11 malam, jalanan sepi mungkin karena tadi sempat hujan. Sampai harmoni rahmat nanya lagi “ini kemana bos?”. Kujawab “ke kanan aja ke arah senen mat, trus lurus aja ke arah kampung melayu”. Singkat cerita kami lewat kampung melayu trus lewat otista.
Di Otista tiba-tiba rahmat bilang “bos lihat tu ada pemulung tidur di emperan toko, dibawa aja bos”. Sontak aku menoleh ke kiri kulihat ada seorang pemulung atau pengemis aku yang telentang di emperan toko. “stop-stop” kataku ke rahmat. “Turun berdua mat” ujarku. Kami turun berdua mendekati pemulung itu. Aku lihat sekelebatan ada anak kecil sepuluh tahunan lagi pipis di emper toko yang lain. Aku dan rahmat bergegas mendekati pemulung itu. “Mat kau diem aja biar aku yang ngomong”, Rahmat mengangguk.
Pemulung itu terlihat kumal umur sekitar tigapuluhan. Kubangunkan dia, “bu ngapain tidur sini? Mau nyolong ya?” kasar suaraku. Pemulung itu terbangun “ngga kok pak saya ngga nyolong, memang tiap malam saya tidur sini”. “Ah kamu pasti mau nyolong ayo ikut ke kantor” (aku berlagak seperti intel) sambil kutarik paksa tangannya.
“Jangan pak, ampun pak kasihani saya jangan di bawa ke kantor polisi pak” dia memelas. Tahu-tahu anak kecil yang tadi kulihat sedang pipis lari menghampiri. “Pak jangan ditarik ibu saya” anak kecil itu ternyata anak pemulung tadi. sambil menangis dia berusaha menarik ibunya. Rahmat dengan sigap tanpa kuperintah merenggut gadis itu. Dibekap mulutnya biar ga teriak. Pemulung itu kuseret paksa masuk ke mobil.
Kubuka pintu “tok, sur, geser ni ada tangkepan”. Anto dan suryo gelagapan karena masih teler. Mereka geser, pemulung itu aku masukkan paksa ke mobil. Gadis kecilnya juga dimasukkan sama rahmat. Rahmat langsung stater mobil trus cabut. Rahmat jalan kesetanan, dia nanya “dibawa kemana nih bos?”. Kujawab “kerumahmu aja ya suryo, kan rumahmu jauh dari tetangga, ga enak kalo kerumahku, ntar satpamnya pada nanya”. Suryo masih teler ga menjawab Cuma mengacungkan jempol.
Ga sampai 45 menit kami sudah sampai di rumah suryo, rumah suryo di tengah sawah daerah ciangsana jadi jauh dari tetangga. Mobil di parkir di halaman belakang rumah suryo. Pemulung dan anaknya kami seret keluar. “kok disini pak, bukan di kantor polisi?” pemulung itu nanya. “Diam, mau dipenjara kamu ya” kubentak dia. Sampai di dalam rumah pemulung itu kuhempaskan di kursi. “Siapa namamu?”. “Sukinah pak” dia ngomong sambil meringis memegangi tangannya yang sakit karena kutarik tadi. “Ini siapa” sambil kutunjuk anak kecil tadi. “Itu Tini pak, anak saya” kata sukinah.
Kuperhatikan sukinah, kaosnya kumal penuh kotoran, tapi dadanya menonjol besar sekali. Kaosnya robek lumayan besar sehingga gunungan susu menyembul, walaupun hitam tapi tetap bikin ngiler rahmat. Kubisiki rahmat “kalian kerjain aja itu sukinah, oke, anaknya biar aku pegang biar ga teriak. Rahmat mengangguk “sip bos”. Rahmat, anto dan suryo mengerubungi sukinah, sukinah sudah paham apa yang akan terjadi. Dia merapatkan tubuhnya meringkuk. Aku bilang “sukinah kamu harus melayani teman-temanku, kalau tidak mau anakmu yang akan mereka perkosa”. Sukinah melirik cemas ke arah Tini.
Sukinah melelehkan air mata dia tidak meringkuk lagi tapi duduk dengan pasrah. Anto dengan cekatan memegang tangan sukinah, sedang surya dan rahmat sibuk merobek kaos dan rok yang dipakai sukinah. Persis dugaanku, susu sukinah ternyata besar sekali. Rahmat meringis melihatnya. Rahmat dengan cekatan membuka celana. Sambil mengocok-ngocok kontolnya dia mendekati sukinah. “Buka kakimu” bentaknya. Sukinah dengan terpaksa membuka kakinya. Rambut kemaluan sukinah tebal tidak terurus. Tapi rahmat sudah tidak peduli. Dia kangkangkan kaki sukinah, kontolnya yang sudah ngacenga dia arahkan ke memek sukinah.
Hmmmmfffff..... sukinah mengerang ketika ****** rahmat masuk paksa ke memeknya. “peret bos” rahmat bilang sambil meringis. Rahmat bergerak maju mundur makin lama makin kencang. Anto masih memegangi tangan sukinah sedang si anto sibuk menyedot puting sukinah. Sukinah benar2 pasrah matanya terpejam tapi melelehkan air mata. Tidak sampai lima menit tubuh rahmat bergetar. “Ahhhhhhhhhhh.........” rahmat mengerang...... 30 detik dia terdiam. Dia cabut kontolnya pelan-pelan. Sperma rahmat meleleh pelan dari memek sukinah. Rahmat menyeringai puas. Dia tepuk punggung suryo sambil bilang “jatah lu sur”, suryo senyuim kegirangan. ****** suryo dah ngaceng juga dari tadi. Rahmat gantian memegangi tangan, sedang si anto mencopot celananya.
Suryo mengambil taplak meja, dia lap memek sukinah, terus dengan tanpa ampun dia hunjamkah ****** itu ke memek sukinah yang masih belum bersih betul. Anto perlahan mendekati wajah sukinah. Disodorkan ****** anto ke mulut sukinah. Sukinah menggeleng-gelengkan kepala, masih sambil menangis. Merasa sudah konak anto tidak sabar, di tampar mulut sukinah dua kali “plak-plak” “ayo kulum” kata anto sambil menjambak rambut sukinah. Dengan enggan sukinah membuka mulutnya. Anto mulai mengocok kontolnya kenceng-kenceng ke mulut sukinah. Sukinah tetap tidak mau menikmati ****** itu.
Rahmat sudah tidak memegang tangan sukinah karena sambil masukin ****** ke mulut sukinah, anto juga memegang tangannya, rahmat berjalan menuju dapur. Keluar dari dapur rahmat membawa terong tidak begitu besar seukuran ****** rahmat. Posisi sukinah yang mengangkang di kursi membuat dia agak kesulitan sepertinya. Rahmat berbisik ke suryo. Suryo mencabut kontolnya kemudian membalikkan tubuh sukinah. Sukinah memberontak tapi anto cepat menghantamkan kening sukinah ke pinggir kursi, sukinah lemas dan tidak melawan.
Dalam posisi nungging rahmat masukkan terong tadi ke anus sukinah. Berulang kali dia coba tapi gagal, kemudian rahmat masukkan terongnya ke memek sukinah dia kocok-kocok sebentar... terong itu jadi mengkilat karena cairan memek sukinah. Setelah itu dia coba lagi masukkan terong ke anus sukinah... blessss..... “aduh pak sakit kata sukinah”. Rahmat yang sudah kesetanan tidak peduli dia masukkan terus sampai amblas tinggal ujung terong yang kelihatan.
Setelah terong masuk ke anus, rahmat mundur, suryo yang tadi belum puas mengarahkan kontolnya ke memek sukinah yang masih nunggingg. Blesss.... srrrt.... blesss.... ahhhhhh sukinah menjerit kesakitan karena sambil menghajar memek sukinah, suryo juga memainkan terong yang nyangkut di anus sukinah. Sukinah mulai menangis agak kencang... anto jambak rambut sukinah jadi mukanya menghadap ke depan... dia kembali memasukkan kontolnya ke mulut sukinah. Sambil menangis sukinah menerima ****** itu walaupun jelas dia tidak menikmatinya.
Rahmat duduk di kursi yang lain sambil memegang kontolnya yang mulai tegang lagi. Kontolku sendiri sudah sejak tadi ngaceng, tapi aku memang tidak mau main keroyokan. Kulihat si Tini anak sukinah menangis sesenggukan melihat ibunya diperkosa. Aku lihat manis juga anak ini. Tapi dekil sekali, bajunya lusuh dan bau. “Mat” panggilku, rahmat mendekat. “Apa bos?” dia nanya. “kalian uruslah sukinah. Puaskan ****** kalian oke, biar si Tini aku urus”. “Sip Bos” jawabnya. Sukinah rupanya mendengarkan percakapan kami. Dia berontak digigitnya ****** anto, anto terpaksa melepas kontolnya karena kesakitan. Sukinah teriak “jangan pak, ampun pak, biar saya yang ngelayani bapak, kasihan tini pak.... ampun pak ampun”. “Sudah diam” bentakku “ikat mulutnya to” kataku ke anto.Anto buru-buru cari selendang kemudian menyumpal mulut sukinah. “kerjain sukinah sampai kalian puas oke” kataku ke teman-temanku.... mereka Cuma mengangkat jempol. Tak kupedulikan lagi mereka.
Tini kuseret ke kamar mandi, aku sendiri ga suka kalo cewek bau. Setelah masuk kamar mandi dia kusuruh buka baju, dia Cuma menangis di pojokan. Tak sabar kujambak rambutnya kurobek kaos dekilnya dan roknya yang juga lusuh, celana dalamnya yang bolong juga kurobek paksa. Kuambil gayung kusiram dia berkali-kali. Setelah basah kuambil shampoo kukeramas rambutnya. Dia ketakutan sekali, kuambil sabun kemudian kusabuni tubuhnya. Setelah itu kusiram lagi dia sampai bersih. Setelah bersih kelihatan manis anak ini batinku.
Setelah kuhanduki, Tini kuseret ke kamar suryo, aku risih kalau harus barengan dengan teman-teman atau dilihat orang lain. Sepintas kulihat suryo sudah duduk dikursi sedang anto gantian memuaskan kontolnya dengan memek sukinah. Tini masih meronta-ronta, aku sudah tidak peduli, kubanting tini di ranjang kayu suryo yang berkasur tipis. Badan Tini melemah.... tanpa basa basi kubuka selakangan Tini.... hmmmm masih perawan... lubangnya kecil sekali. Tini menggeliat, meronta. Kubilang “kalau kamu meronta ibumu dibunuh sama orang-orang itu”. Tini tidak meronta lagi tapi menangis keras. Kutampar mulutnya “kalau kamu nangis kamu yang aku suruh perkosa orang-orang itu”. Dia masih menangis tapi tidak mengeluarkan suara. Kulepaskan baju dan celanaku yang basah karena memandikan si Tini.
Setelah telanjang, kuhampiri tini, kulihat tubuh mungil itu, dadanya benar-benar masih rata, memeknya belum ada bulunya sama sekali. kubilang “kamu harus nurut, kamu diam saja mengerti”. Tini masih menangis tapi mengangguk pelan. Kubuka selakangan tini. Kontolku yang besar kuarahkan ke memek tini yang rapat. “Wah agak susah ini” pikirku. Tubuh tini menggigil kedinginan. Ujung kontolku kutempelkan ke memek tini. Susah sekali masukin walaupun hanya ujungnya. Sedikit masuk kutarik lagi, mungkin ada sepuluh kali kucoba akhirnya ujung kontolku bisa masuk. Kunikmati memek tini. Ujung kontolku kukocok-kocok makin lama makin kencang.... tini meringis kesakitan. Aku yang dah terlalu birahi tinggi tidak mempedulikan lagi perasaan tini. Setelah semakin kencang, memek tini semakin lebar akhirnya kontolku mulai kutekan pelan tapi mantap ke memek tini. Seret, agak ngilu tapi kupaksakan... blessssssssssssssss.......... aaahhhhhhhhhhhhhhhhh pak..... Tini menjerit kesakitan, badannya terangkat... matanya melotot... kudekap erat dia.... mulutnya kubekap biar ga teriak semakin keras.
Kudiamkan kontolku di memek tini kurang lebih semenit, setelah badan tini tidak mengejang kubaringkan lagi dia. Mukanya basah oleh air matanya. Dengan masih kututup mulutnya, mulai kumainkan kontolku... kutarik srtttt... kumasukkan lagi bless.... tiap kumasukkan kontolku tini mengejang saking sakitnya mungkin. Ada sepuluh kali kuperlakukan gitu, akhirnya kuberanikan untuk mempercepat hunjaman kontolku... srrrrrrppppppppppp aaahhhhhhhhhhh enak banget memek perawan.... tapi tetep saja kontolku tidak amblas ke memek tini hanya separuh batangnya yang masuk. Kurang lebih 20 menit kuhajar memek tini akhirnya kontolku bergetar keras mau memuncratkan sperma, makin kencang kuhunjamkan kontolku, Tini sudah pingsan 5 menit yang lalu. Kontolku sudah benar benar tidak tahan kuhentakkan kontolku kuhunjam masuk seluruh batangnya sambil menyemburkan spermaku... crotttttttt crooooooottttt jjjjjjjjjjrrrrrrrrrrrooooooooooottttttttt... ahhhhh.... kini aku yang menegang..... muncratlah spermaku..... Semenit berikutnya kutarik kontolku... kurebahkan badanku yang basah karena keringat.... kulirik tini masih diam pingsan... pelan2 aku bangkit. Kulihat kontolku kena darah perawan si tini. Aku beranjak menuju kamar mandi kubasuh dan kusabuni senjataku yang perkasa. Setelah bersih aku ke ruang tamu.
Kulihat sukinah sudah tidak karu-karuan kondisinya. Mukanya lebam-lebam mungkin karena dipukuli teman-teman. Badannya lemas telentang di meja dan lagi di genjot rahmat, sementara anto dan surya duduk lemas di kursi. ****** mereka setengah tegang, sperma berceceran di lantai dan kursi, entah berapa kali sukinah mereka hajar. Melihat rahmat genjot sukinah, kontolku mulai berdiri lagi.
Aku bangun dan menuju kamar suryo. Kubuka pintu kamar, kulihat tini sudah siuman, tapi tidak bergerak, melek tapi lemah sekali. Kontolku dah senut-senut bener-bener ga tahan. Kaki tini kubuka lebar. Memek kecil itu membuka dikit. Kuangkat kaki tini memeknya makin kebuka tapi karena masih sepuluh tahun selebar-lebarnya memek tetep terlihat mungil. ****** kuarahkan ke memek tini. Kutekan amblas. Srrrrrrrrtttttttt blesssssssssssssssssss...... seret dan tidak langsung amblas tapi kutekan terus sehingga masuk semuanya. Tini tidak sanggup bersuaram, hanya menggeleng-geleng lemah namun tak sanggup bebuat apa-apa.
Kupermainkan tubuh kecil itu. Kurobek-robek memek mungilnya dengan kontolku yang gede, setengah jam berlalu dan kuhentakkan yang terakhir kalinya sambil kusemprot spermaku di memek tini... crrrrrrrrrooooooooottttttttt... crooooooooooot.. jrooooooooooottttttt..... ahhhhhhhhhhh.... nikmat sekali memek mungil ini.... Tini sudah pingsan dan aku ga tahu dah berapa lama dia pingsan....
Kucabut kontolku dan spermaku kembali meleleh ke kasur... Tini tergolek, aku pun merebahkan diri disampingnya, kulihat tini, kasihan juga gadis kecil ini, tapi mau bagaimana lagi, nafsu sudah memenuhi otakku sehinnga aku tega berbuat keji.
Sepuluh menit berlalu, setelah agak segar aku keluar kamar, kulihat sukinah pingsan di lantai di memeknya kulihat ada sebatang terong, mungkin yang tadi ditusukkan ke anusnya. Rahmat, anto dan surya duduk lemas di kursi sambil asyik menghembuskan rokok. Kulihat jam dinding , ternyata sudah jam 4 pagi. Kupanggil suryo, “ sur, ada baju untuk sukinah dan tini ga, cari aja baju istrimu dan anakmu, sudah pagi ini, cepat pakaiin mereka pakaian, kita buang mereka”. “Ada bos, bentar ya” suryo buru-buru membuka lemari mencari baju-baju bekas istri dan anaknya... “ini bos” suryo membawa satu daster kecil dan besar, juga celana dalam punya istri dan anaknya. “Ya udah pakaiin aja itu si sukinah” sahutku sambil mengambil daster dan celana dalam yang kecil. Rahmat, suryo dan anto buru-buru memakaikan pakaian sukinah, aku sendiri memakaikan pakaian ke tini. Selesai memasang celana dalam dan daster tini aku memakai bajuku yang berserakan di lantai. “hmm... masih basah, tapi biar aja” batinku.
Kubopong tini keluar “ayo buruan kalian angkat sukinah ke mobil” perintahku ke mereka. Tanpa banyak cakap mereka angkat sukinah. Setelah kedua korban kami masukkan mobil, mobil aku stater, aku yang nyetir sendiri. Kuinjak gas dalam-dalam, aku takut kesiangan. Aku arahkan mobil ke jalan raya cibubur, setelah memutar balik di dekat legenda wisata, kembali mobil kubawa kencang ke arah tol, aku ambil tol yang ke arah bogor. Sudah jam 4.30 aku harus buru-buru, di kilometer 23 kulihat jalan sepi, tidak ada lampu mobil menyorot di belakang kami. Buru-buru aku mengerem mobil. Ciiiiieeeettttt. Mobil berhenti, buru-buru rahmat anto dan suryo keluar mobil, sukinah dibopong rahmat dan anto, sedangkan Tini di gendong suryo. Mereka berdua masih pingsan, “ga usah jauh-jauh buangnya, pinggir-pinggir situ aja” kataku ke mereka... tidak sampai 30 detik mereka sudah balik ke mobil, setelah pintu ditutup mobil langsung kubawa lari kayak setan ke arah bogor.
Kulihat dari spion dalam mereka lemas tapi tersungging senyum puas, aku tidak bertanya macam-macam ke mereka karena aku memang tidak suka berdiskusi masalah seks. Di mobil, mereka mulai bercerita seru rasanya menghajar sukinah, aku hanya tersenyum mendengarnya. Kubawa mobil keluar pintu sentul, tapi aku langsung memutar masuk tol lagi yang ke arah jakarta, tidak sampai 30 menit sudah sampai di rumah suryo, kuturunkan mereka dan aku langsung cabut balik ke rumah, sepanjang jalan aku tersenyum mengingat-ingat kekejamanku ke si Tini.

Mbak Rena Adiknya Ibuku

Hey,namaku adit ini bener-bener pengalaman yang tak akan terlupakan bagiku ceritanya aja baru 6 bulan yang lalu , aku tinggal bersama orang tuaku dan adik ibuku yang perempuan namanya mbak Rena(28thn) dan suaminya(30thn),ceritanya waktu itu orang tuaku pergi ke Jakarta dengan naik mobil yang mengemudikan adalah suami mbak Rena , mereka berencana pergi ke Jakarta selama 1 minggu, karena sodara ayahku mau menikahkan anaknya.
Aku di rumah cuman bersama mbak Rena yang tidak ikut karena klo pergi jauh dia sering mabuk, Mbak Rena bisa di bilang “ Perfect “ mukanya cantik,tingginya 160cm dan BB 45kg dan BHnya berukuran 38B karena klo aku main di jemuran aku sering melihatnya BH waktu di Jemur( kan 1 rumah jadina tau dunk!^^) nah waktu itu mbak Rena sedang belanja ke Supermarket di depan Perumahan,karena bosen di kamar aku liat VCD yang ku pinjam dari temen,filmnya sangat menarikkkk karena aku tak tahan kontolku yang udah berdiri Maximal sih menurutku panjangnya 19 cm diameternya 3,5 cm kukocok-kocok sendiri pake tangan 30 menit kugosok dan kukocok-kocok spermaku keluar juga tapi Senjataku ini ngak lembek-lembek juga masih tetep berdiri , dan kulihat VCD itu adeganya semakin HOT.
Mbak Rena pulang dari supermarket lsg masuk kamar , waktu aku lewat di depan kamarnya , pintunya agak terbuka sedikit karena waktu itu aku sedang sangat sangat Bergairah kulihat mbak Rena hanya menggunakan rok mini dan blus warna Pink , kulihat mbak rena sedang mendengarkan i-pod dan aku sedang sangat bergairah tak kupikirkan lagi mbak Rena itu siapa , yang penting aku bisa menyalurkan hasratku aku masuk diam-diam ke kamar mbak Rena dan kukunci dari dalam kuncinya aku taruh di di bawah meja rias mbak Rena , dan Mbak Rena belum sadar bahwa aku sudah di dalam kamarnya,aku pun mulai mendekat dan menjilat pantatnya , mbak Rena kaget dan turun dari ranjang
RENA :“apa yang kamu lakukan , dit?”
ADIT : “mbak aku cuman pengin diajarin ML”
RENA :“Sadar dit kamu tuh ponakanku” di dalam hati hati ku bicara “
ADIT :”so what gitu loh?”.
Ku robek blusnya dan wow! Payudara yang ranum putih dan berisi di dalam BH berwarna merah menantang , dia menjerit tapi ku inyahkan saja kutarik tanganya ke belakang kuikat dengan celana tidurnya , kujatuhkan dia di sofa dan dia jatuh menungging ku angkat rok mininya ke atas dan mulai ku elus2 selangkanganya dan dia mendesah
RENA :“shhhhh jaaaannnggaaannn diiittt shhhhhhhh……sssshhh……aaahhhh…” wow
CDnya lama-lama mulai basah,kulepas rok mininya dan CD , dan kuangkat dia ke ranjang ku baringkan dia lalu kutarik ke pinggir ranjang aku sudah telanjang bulat waktu itu , ku angkat ke2 kakinya ke atas tak piker apa2 ku masukan kontolku ke vaginanya , rasanya pertama sempit tapi lama-lama vaginanya dapat menerima kontolku ….. slop ….slop….sloppp…..slop…slop……kumasukan kukeluarkan berkali kali mungkin hingga mbak Rena berkata “ dittt…….ahhhhh….dit….enak dit……teruss………..ahhhh.” wah mbak rena dah mulai menyukai permainanku, aku tambah bersemangat hingga akhirnya mbak Rena orgasme duluan 15 menit kemudian mbak Rena Orgasme yang ke 2 tapi kok aku belom sampe yach 5 menit kemudian aku merasa kontolku ingin mengeluarkan sesuatu dan crot..crot…crot…crot.4x kontolku menyemburkan spermanya di liang tmbak Rena.
Aku masih lemas berusaha melepas ikatan dan kuciumi bibir mbak rena yang merah merona kucumbu dia dengan permainan lidah dan dia bereaksi membalas ciumanku dengan ganas karena aku masih agak punya tenaga ku tungguingkan mbak rena dan kulancarkan serangan dengan gaya doggy style permainanya cuman bertahan 30 menit.kami tertidur selama 3 jam ketika aku bangun mbak Rena sedang make-up di depan meja rias dan dia Tanya di mana kuncinya dia mau pergi ke arisan dulu dan kuberikan kuncinya mbak Rena akhirnya pergi,aku mandi dan kembali ke kamarku kulihat ada obat perangsang tiba2 keluar ide jahilku ,jam 7 malam mbak Rena kembali Rumah kubuatkan dia teh hangat dengan campuran obat perangsang , aku kembali kamar bersiap siap pasti mbak Rena akan ke kamarku,memank bener mbak Rena dating ke kamarku 5 menit kemudian aku sudah telanjang dan dia membuka seluruh pakaiannya kutarik dia ke ranjang dan kucumbu dia dengan ganas.akhirnya selama 6 bulan ini aku dan mbak Rena sering melakukanya minimal sih 4x seminggu……cuman itu doank yang bisa aku ceritain bye…

Teh Imas Tetanggaku

Namanya Imas, aku biasa memanggilnya Teh Imas, sementara ia biasa memanggilku Mas Tody. Perawakannya sedang-sedang saja, wajahnya pun sedang-sedang saja, bila dibandingkan dengan istriku jelas lebih cantik istriku. Tapi entah mengapa ia begitu menggairahkan diriku sehingga aku sering berangan-angan untuk dapat bersetubuh dengannya. Mungkin itulah yang dimaksud dengan peribahasa “Rumput di halaman tetangga nampak lebih hijau”. Angan-anganku tersebut sebenarnya tidak berlebihan karena Teh Imas sendiri sering memancing perhatianku, baik dengan perkatan-perkataannya saat ia mengobrol denganku, maupun dengan sikap dan gerak-geriknya. Rumah kami yang saling berhadapan memungkinkan diriku untuk sering mengamatinya sambil berkhayal. Apalagi bila ia selesai mandi (kebetulan kamar mandinya berada di luar rumah) seolah sengaja memamerkan tubuhnya yang sintal dan mulus yang hanya ditutupi dengan handuk yang minim. Tak ayal lagi bila melihat itu aku pun asyik memelototinya dari balik kaca rumahku sambil beronani.

Pernah pada suatu hari ketika aku berjalan di gang yang sempit dekat rumahnya aku dikagetkan olehnya di tikungan. Kontan saja aku merasa kaget, namun ketika mengetahui bahwa yang mengagetkanku itu Teh Imas aku pun memeluknya erat-erat. Pada mulanya ia meronta-ronta hendak melepaskan diri dari pelukanku namun dari rontaannya aku mengetahui bahwa ia hanya berpura-pura, terlebih-lebih ketika aku berhasil mendaratkan ciuman di bibirnya yang seksi ia memberi respons dengan membalas ciumanku. Tanganku pun bergerilya di sekitar dadanya. Teh Imas hanya dapat menggelinjang sambil merintih keenakan. Untung kami sadar bahwa gang tersebut adalah jalan umum walaupun pada saat itu sangat sepi maka kami pun melepaskan ciuman kami. Teh Imas tersenyum tersipu sambil berkata “Ah, Mas Tody nakal!” sambil mencubit mesra pahaku. Sejak saat itu khayalanku bertambah menjadi-jadi karena mengetahui bahwa Teh Imas membalas hasratku. Teh Imas pun semakin atraktif bila di hadapanku seolah-olah memberi isyarat bahwa ia menginginkan peristiwa di gang sepi itu terulang lagi. Bahkan lebih dari itu.

Pada suatu hari ketika aku akan pergi ke kampung untuk menjemput orang tuaku tanpa curiga suami Teh Imas menyuruh istrinya untuk ikut bersamaku guna menengok adiknya yang kebetulan tinggal di kota yang sama dengan tempat orang tuaku tinggal dan Teh Imas pun setuju. Waktu itu aku membawa mobil kakakku dan pergi sendirian. Wah pucuk dicinta ulam pun tiba pikirku.

Singkat kata kami berdua pun pergi bersama-sama. Sepanjang perjalanan kami tidak banyak bicara karena bagaimanapun aku merasa rikuh takut Teh Imas tidak merasa senang. Yang kulakukan hanya membayangkan alangkah nikamtnya bila aku dapat menyetubuhi Teh Imas yang bahenol nerkom itu sehingga sepanjang perjalanan kontolku ngaceng terus. Ketika tiba di kota S kami pun mampir di sebuah restoran yang berdampingan dengan sebuah hotel untuk beristirahat sambil mengisi perut karena di rumah kami belum sempat sarapan. Sembari menikmati sarapan otakku berputar mencari jalan bagaimana caranya agar aku dapat menyetubuhi Teh Imas sepuas-puasnya. Setelah selesai makan saya berkata kepada Teh Imas “Teh kita istirahat dulu di hotel yach untuk mengembalikan stamina karena perjalanan kita masih jauh”. Teh Imas tersenyum sambil menjawab “Alaaaaah Mas Tody kok pura-pura segala, bilang saja terus terang kalau Mas Tody ingin ngewe dulu dengan saya, saya juga mau kok karena dari dulu juga memek saya sebetulnya sudah kepingin dimasuki oleh kontol Mas Tody. Tadi juga saya selalu memperhatikan celana Mas Tody yang kembung karena kontolnya ngaceng ya?”. Aku merasa agak malu karena tipu muslihatku diketahui oleh Teh Imas, tapi aku pun merasa lega karena keinginanku tidak bertepuk sebelah tangan. Teh Imas pun melanjutkan ceritanya, “Mas sebenarnya hasrat seks saya tidak terpuaskan oleh suami saya yang kontolnya kecil lagi pula loyo, oleh karena itu saya selalu beronani sambil membayangkan bahwa saya sedang diewe oleh Mas Tody”. Mendengar pengakuannya yang polos dan terus terang itu kontan kontol saya semakin mengeras apalagi setelah saya perhatikan ternyata di balik T-Shirtnya yang ketat Teh Imas tidak mengenakan BH sehingga buah dadanya yang besar terlihat menggelantung dan putingnya tercetak jelas.

Akhirnya kami memutuskan untuk cek-in di hotel di sebelah restoran tadi. Hotel tersebut lumayan bersih dengan suasana yang tenang. Begitu kami masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya kontan Teh Imas memeluk diriku dan mendaratkan ciumannya ke bibirku sambil tangannya berusaha untuk membuka ritsleting celanaku seolah-olah tidak sabar untuk memegang kontolku. Aku pun segera mengimbangi kebuasannya dengan melumat bibirnya sambil meremas-remas teteknya. Untuk membantu Teh Imas aku pun segera membuka celanaku sehingga Teh Imas leluasa memegang dan mempermainkan kontolku yang berukuran sedang, panjang 14-15 cm. dengan diameter 13 cm. Ketika aku mendaratkan bibirku di lehernya, Teh Imas pun menggelinjang kegelian sambil mendesah nikmat. Aaaah …… Masssssss …….. geli tapi nikmaaaaaaaat. Aku pun meneruskan pengembaraan bibirku ke bagian dada Teh Imas yang kausnya sudah dibuka. Segera ketika kudapatkan teteknya yang besar aku pun menghisap dan mempermainkan pentilnya dengan bibirku. Teh Imas menjerit tertahan sambil mengelinjang kegelian campur nikmat. Aaaaawwww …… Massssss ……. Terus …… jangan biarkan saya menderita Maaaassss ……. Aku sangat menginginkan kontolmuuuuuu ……., sambil tangannya tidak henti-hentinya mempermainkan kontolku. Sambil tetap mengulum dan menghisap teteknya aku pun melepaskan celana panjang dan cd Teh Imas sambil perlahan-lahan membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Aku pun menempelkan kontolku serta menggesek-gesekkannya pada permukaan memek Teh Imas yang ditumbuhi oleh bulu yang lebat. Nampaknya Teh Imas sudah tidak sabar ingin segera merasakan kenikmatan kontolku; ia berusaha memasukkan kontolku ke dalam memeknya dengan jalan menggoyang-goyangkan pantatnya sambil mengarahkan lubang memeknya yang sudah basah kepada kontolku. Namun aku sengaja menahannya tidak memasukkan kontolku tersebut ke dalam memeknya karena aku ingin tahu sampai sejauh mana nafsu wanita yang seksi ini. Aku malah mempermainkan memeknya dengan tanganku, kuusap-usap klitorisnya dengan jariku.

Dipermainkan begitu Teh Imas semakin hebat menggelinjang, pantatnya tidak berhenti bergoyang, sementara bibirnya semakin ramai mendesah dan meracau sssshhhhh …… ssssshhhhhhh …….. shhhhhhhh …….. Maaassssssss …….. aku sudah tidak tahan Maaaassssss …… cepat masukkan kontolmuuuuuu ……. Massssss …….. aku bisa gila Maaasssss …….. ingin cepat merasakan kontolmuuuu, sudah lama aku menginginkan diewe olehmu Massssss …… Nafasnya semakin memburu. Kulihat matanya membeliak, dan yang tampak hanya bagian putihnya saja. Melihat nafsunya yang sudah demikian memuncak aku pun merasa iba sehingga secara perlahan-lahan kumasukkan kontolku ke dalam lubang memeknya, ketika sudah masuk separohnya kucabut kontolku, untuk dimasukkan kembali separohnya. Demikianlah kulakukan berulang-ulang. Teh Imas matanya setengah terpejam sambil mulutnya tidak henti-hentinya mengeluarkan desahan seperti orang yang kepedasan karena makan sambal sambil pinggulnya tidak berhenti bergoyang dan berputar yang menambah kenikmatan kontolku. Sssssshhhhh …….. ssssshhhhhtttt …….. ssssshhhhhh …….. ssssshhhhh …….. Ketika kuhunjamkan seluruh kontolku ke dalam memeknya Teh Imas pun menjerit tertahan sambil wajahnya mendongak aaaaaaaaaawwwwwww ……….. Melihat lehernya terbuka aku pun menciumi lehernya, tapi aku membairkan kontolku tertanam di dalam memek Teh Imas tanpa memajumundurkan atau menggerakkannya. Teh Imas nampak kesal, dan ia memintaku untuk memajumundurkan kontolku. “Jangan didiamkan dong kontolmu Masss …… kurang nikmat, nanti aku imbangin permainan kontolmu dengan goyang jaipongku”. Memang kebetulan Teh Imas pandai menari jaipong yang seksi itu.

Permainan kami sudah berlangsung 30 menit, berbagai posisi telah kami coba dan Teh Imas selalu menuruti posisi yang aku minta dan kelihatannya ia sangat menyukai setiap posisi tersebut, terlebih-lebih ketika aku memintanya untuk menungging dan aku hunjamkan kontolku dari belakang sehingga terasa betul bahwa seluruh kontolku ditelan oleh memeknya. Ia sudah mengalami orgasme sebanyak lima kali dan terlihat sudah kelelahan. Maka akupun memberi isyarat kepadanya bahwa aku pun akan mengeluarkan maniku di dalam memeknya, ia pun menyetujuinya dan menghendaki untuk keluar bersama-sama. Dalam keadaan bugil kami pun berpelukan tanpa menghiraukan keringat kami yang bercucuran. Teh Imas pun bercerita bahwa suaminya terlalu kuno dalam bermain cinta, tidak lihai membangkitkan gairah istri, sehingga Teh Imas sering merasa malas meladeninya, di samping ukuran kontolnya yang kecil dan pendek serta tidak tahan lama. Kebetulan aku pun mengalami masalah yang sama, istriku terlalu kuno dalam bercinta, tidak mau bereksperimen, hal itu membuat aku kadang-kadang merasa jenuh. Tanpa terasa kami pun tertidur sambil berpelukan.

Ketika aku terbangun kulihat Teh Imas masih tertidur lelap dalam keadaan telanjang. Posisinya sangat menggairahkan, kedua kakinya tertekuk agak mengangkang sehingga terlihat memeknya yang berwarna merah kehitam-hitaman agak merekah. Melihat pemandangan itu kontan saja kontolku ngaceng kembali tapi aku tidak segera memasukkan kontolku tersebut ke dalam memek Teh Imas, melainkan secara pelan-pelan mendekatkan bibirku ke arah memek tersebut. Aku ingin memberi pengalaman baru yang mengasyikkan kepada Teh Imas. Segera saja kudaratkan bibirku ke memek Teh Imas tanpa menghiraukan bau yang keluar dari lubang kenikmatan tersebut dan juga tanpa menghiraukan bekas-bekas mani yang masih menempel. Kujulurkan lidahku untuk mengorek-ngorek lubang memek tersebut sambil sesekali kuhisap dan kupermainkan klitorisnya dengan lidahku. Teh Imas belum terbangun tapi pantatnya bergoyang-goyang dan terangkat sambil mengerang-erang, kelihatannya karena geli dan nikmat. Mungkin ia sedang bermimpi nikmat. Ketika tidak berapa lama kemudian Teh Imas terbangun ia melihat bahwa aku sedang bermain-main di seputar memeknya, ia pun menjambak rambutku dan membenamkan kepalaku ke memeknya, pahanya segera menjepit erat kepalaku dan kakinya ditumpangkannya di pundakku. Badannya menggelepar-gelepar, kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan, tangannya menjambak rambutku dan menekan kepalaku agar lebih keras mempermainkan memeknya. Sepertinya kalau bisa ia ingin membenamkan seluruh kepalaku ke dalam lubang memeknya. Aku pun semakin agresif memberi kenikmatan kepada memek Teh Imas yang tidak henti-hentinya menggelinjang sambil mengerang. Aaaahhhhh ……. Sssssshhhhhh …….. sssssshhhhhhh ……. Adddddduuuuuuuuhhhh …… Massssssssssssssss ………. Pandai nian Massss memberi kenikmatan padaku, aku rela diperlakukan bagaimana pun asal nikmaat bagikuuuuuuuuuu ……., telan saja memekku Maaaaassss …….

Aku pun melanjutkan permainan bibirku ke bagian atas. Aku menjilati pusarnya, terus naik lagi semakin ke atas dan segera kutemukan tetek Teh Imas yang menjadi pavoritku, aku senang berlama-lama mempermainkan serta menghisapnya. Teh Imas semakin liar gerakan tubuhnya, menggelinjang ke sama kemari. Mulutnya tidak henti-hentinya meracau mengeluarkan desahan serta kata-kata yang jorok menyebabkan aku semakin terangsang. Maaaasssssssss ……… cepet dooooong masukkan kontolmuuuuuuuu ….. jangan siksa aku Maaaasssssss ……… ooooooohhhhhhhh nikmatnyaaaaaa ……… aku ingin segera naik ke surga duniaaaaaa ……… Masssssss …… Aku merasa iba mendengar rintihan serta ratapannya, di samping aku pun memang sudah tidak tahan.

Aku segera menghunjamkan kontolku keras-keras ke dalam memek Teh Imas, ia seperti tersedak, nafasnya seolah-olah terhenti sejenak, kemudian terdengarlah erangannya yang semakin meningkatkan nafsu birahiku. Aku pun tidak berhenti memajumundurkan kontolku, sehingga terdengar bunyi seperti suara langkah kaki orang yang berlari-lari di tempat yang becek, cek cek cek cek cek ditimpali suara beradunya pahaku dengan paha Teh Imas yang mengeluarkan suara plok plok plok. Suara-suara tersebut dipadukan dengan suara rintihan serta erangan yang keluar dari mulutku dan mulut Teh Imas. Ah, nikmat benar ngeweeeeeeeeee dengan Teh Imas! Tidak berhenti sampai di situ, kami pun berguling-guling untuk menambah variasi permainan, kadang aku di atas kadang di bawah. Ketika aku berada di atas kendali permainan ada pada diriku, tapi ketika aku berada di bawah maka Teh Imaslah yang mengendalikan permainan, dengan liar ia menaikturunkan serta memajumundurkan pantatnya sementara aku mengimbanginya dari bawah. Teh Imas tidak henti-hentinya memuji kelihaianku dalam memuaskan dirinya. Maaaasssss ……. Pandai benar engkau memuaskan diriku ……. Masssss andaikata engkau suamiku tentu aku akan memintamu mengewe diriku setiap saat …… Maaaaaassssss ……… aduuuuuuuhhhh ………. Nikmaaaaatttttt ……. Sssshhhhhhhh ………… Shhhhhhhhhhh ……… kontooooooooollllllll. Massssssss …….. rendamlah kontolmu di dalam memekku selama mungkiiiiiiiinnnnn aaaaaaaaawwwwww ……… ssssshhhhhhhhh. Aku pun mengimbangi pujiannya dengan memuji pula. Teeeeeeehhhhhhhh ………. Sudah kuduga pasti memekmu enaaaaaaaakkkkkkkkk ……… sssshhhhhhhh………. Setelah berlangsung cukup lama aku merasa ada sesuatu yang mendesak-desak di dalam kontolku ingin keluar, Teh Imas pun nampaknya mengejang, maka aku mengajak agar mencapai orgasme secara bersama-sama, teh Imas mengangguk. Terjadilah kontraksi pada diri kami berdua sejenak kemudian memancarlah air maniku di dalam memek Teh Imas, diiringi oleh jeritan tertahan dari kami berdua. Awwwwwww …….. aduuuuuuuh ……. Masssssss ……… Teeeeeeehhhhhhh …….. Kami pun terkulai lemas, tubuh Teh Imas menindih tubuhku, tangannya memeluk erat tubuhku dengan mesra.

Ketika hari menjelang sore kami berdua mandi bersama-sama karena hendak melanjutkan perjalanan ke kota tujuan. Kami saling menyabuni tubuh kami masing-masing dan di dalam kamar mandi itu terjadilah lagi persetubuhan dengan gaya dan posisi yang benar-benar baru bagi Teh Imas. Ia sendiri mengakui bahwa pengalaman ngewe bersamaku di hotel itu merupakan pengalamannya yang baru dalam bersetubuh dan membawa kenikmatan yang luar biasa baginya.

Setelah selesai mandi sambil ngewe kami pun cek-out dari hotel tersebut dan melanjutkan perjalanan ke kota tujuan kami. Tapi berbeda dengan ketika kami baru berangkat dari rumah kami suasana di perjalanan sekarang jauh lebih santai lebih menyenangkan. Aku dipaksa untuk melepaskan cd-ku oleh Teh Imas agar ia leluasa mempermainkan kontolku, dan kadang-kadang mengulumnya. Perlu diketahui bahwa setelah keluar dari hotel aku mengenakan sarung sedangkan Teh Imas mengenakan rok. Bukan satu dua kali aku harus meminggirkan mobilku yang kukemudikan di tempat yang sepi karena merasa tidak tahan dengan kenikmatan yang diberikan oleh Teh Imas kepada kontolku. Kebetulan sepanjang perjalanan kami banyak melewati hutan jati. Bila sudah demikian Teh Imas pun meminta kepadaku untuk menjilat dan menyedot itilnya karena ia pun tidak memakai cd. Aaaah …… Teh Immmmaaaaasss, betapa nikmatnya itilmu seperti yang selama ini aku bayangkan.

Sesampai di kota yang dituju kami pun berpisah karena rumah orang tuaku dan rumah adiknya berjauhan sekaligus untuk menghilangkan jejak. Sebelum berpisah kami sama-sama berjanji untuk merahasiakan peristiwa nikmat ini dan sekaligus juga berjanji untuk melakukannya lagi pada waktu yang lain bila keadaan memungkinkan. Aaaahhhhh …… Teh Imaaaaaasssssss ……. Aku selalu merindukan memekmu ………. Kapankah kontolku bisa menembus dan mengaduk-aduk lagi memekmu? Aku pun yakin bahwa perasaanmu juga sama. Teh Imas ewean lagi yu? Aku ingin mengewemu setiap saat. Semoga Teh Imas membaca cerita ini dan menyambut keinginanku ini.

Bagiku sekarang rumput di halaman tetangga itu bukan saja “lebih hijau” namun juga “lebih nikmat”. Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhh ……………………

Irene Mantan Kekasihku

Irene seorang gadis umur 18 tahun,aku berkenalan dengannya ketika aku di SMP waktu itu aku sempat jalan dengannya dan waktu itu aku dikhianati olehnya,sempat aku berpikir dengan sahabatku kalo aku akan memperkosa dia saat dia pulang sekolah,tapi kukurungkan niatku waktu itu karena aku masih sempat berpikir ke depan.
Pada waktu ketika aku naik ke kelas 3 SMA tiba" adik angkatku yang baru masuk SMA bertanya kepadaku"Apakah aku kenal dengan gadis bernama irene?"aku tidak berpikir itu dia karena mantanku di SMA banyak,akhirnya setelah bertemu kami pun akrab kembali tetapi di dalam pikiranku masih tertanam benih" balas dendam ketika di SMP dulu.Sampai pada akhirnya setan tlah menguasaiku...tanpa berpikir aku merencanakan satu rencana yang tanpa aku pikir" lagi
Keesokan harinya aku bertemu dengannya di kantin sekolah,dan aku mulai merencanakan siasat yang tlah aku buat.Aku bilang dengannya apakah ada waktu setelah pulang sekolah nanti??dan dia menjawab dengan cepat kalo dia ada waktu.Akhirnya aku tunggu dia di gerbang sekolah dan akhirnya kami jalan ke mall dan di mall aku secara tidak sengaja melihat buah dadanya yang lumayan besar itu,aku mulai tak tahan melihatnya berulang kali ketika dia sedang mencari barang" yang dia butuhkan,aku mencoba menahan gejolak laki"ku yang tlah mucul tetapi rasanya aku tak kuat lagi dan aku segera bilang kepada irene kalo aku sakit kepala dan aku ingin istirahat,tidak beberapa lama irene pun tlah selesai berbelanja dan akhirnya mengantarku pulang sampai kerumah,aku persilakan dia masuk ke rumahku yang waktu itu kosong tak ada sapa" aku pun langsung menjalankan siasatku yang sudah di ujung kepala.
aku tidur di kamar nyokap yang waktu itu nda ada di rumah sedang kerja,aku liat irene sedang bingung entah harus apa,aku bilang ke dia kalo aku ingin dikompres agar sakit kepalaku reda.Tidak beberapa lama akhirnya ia datang membawa air dan handuk yang tlah dibasahi oleh air dingin,dia mencoba mengompresku dengan hati" dan tanpa sengaja aku melihat buah dadanya yang ranum itu,aku mulai gelisah dan aku mulai mencoba merayunya
Tidak beberapa lama aku mulai menciuminya dia kaget ketika aku mencium bibirnya aku mulai memeluk tubuhnya pada saat ketika aku mulai memeluk tubuhnya ia segera melepaskan kedua tanganku dari tubuhnya.aku pun segera merayunya kembali dan akhirnya aku cium dia kembali dan mulai memeluknya mencoba untuk menelatangkan dia di tempat tidur,dia mulai gelisah ketika aku mulai nakal menciuminya,aku pun sudah tak tahan lagi aku pun segera membuka apa yang ada di tubuhku dan ia kaget ketika aku melepaskan celanaku dan ia bertanya"APA YANG AKAN KAU LAKKUKAN TERHADAPKU??" aku tak peduli dengan pertanyaannya aku mulai mencoba membuka seragam dia pakai tanpa susah payah akhirnya aku tlah membuka seragam yang ia pakai dan tinggal celana dalam dan bra hitam yang ia kenakan aku menggila menciumi tubuhnya dari bibir sampai ke lehernya dan ia pun mulai berontak ketika tanganku mulai mencoba melepaskan bra dan celana dalam yang ia pakai aku tampar pipinya yang chubby tersebut dan akhirnya ia pun menangis,aku sudah tak peduli aku mulai mencopot bra dan celana dalam yang ia pakai,ketika aku mau melepaskan celana dalamnya dia memohon kepadaku agar jangan aku lakukan.Aku tampar sekali lagi pipinya yang chubby tersebut dan akhirnya ia pasrah.
aku pun terdiam sesaat ketika aku sudah melepaskan semua yang ada di tubuhnya aku berpikir sejenak betapa indah tubuhnya ketika tak pakai selembar kain pun,aku pun mulai menciumi dadanya yang ranum tersebut aku sedot" putingnya yang merah dengan penuh nafsu terkadang sekali kali aku gigit karena aku gemas,setelah 10 menit aku bermain di dadanya aku mulai turun ke perut dan tanganku tetap mencoba merangsang dadanya yang berukuran 34 B tersebut aku sesekali melihat mukanya yang menangis tersebut tetapi terkadang ada tampang wajah menikmati cumbuan cumbuan yang aku berikan kepadanya
dan tak beberapa lama aku pun mulai turun ke bagian vaginanya aku melihat gua kecil yang masih rapat di tutupi oleh rambut rambut yang halus baru muncul di sekitar kemaluannya,aku pun tanpa pikir panjang aku rubah posisiku menjadi posisi 69 ketika itu aku suruh dia menjilati penisku yang sudah menegang dari awal pertama ia ragu ragu ketika aku suruh dan aku bentak dia untuk cepat menghisap penisku tersebut,akhirnya ia pun mulai menghisap penisku yang sudah menegang dari awal,akupun terdiam sesaat ketika penisku tersebut dihisap olehnya begitu nikmat rasanya dan aku mulai menciumi vaginanya tidak beberapa lama dia mulai menggelinjang sesekali berteriak"OUGH.........ARGH.........."akupun meningkatkan seranganku kepada vaginanya yang masih rapat tersebut terkadang aku menyedot klirotisnya dan ia pun makin menjadi dengan tangannya kepalaku dibenamkan di sela sela pahanya dan tak beberapa lama aku merasakan ada yang keluar dari vaginanya ternyata ia orgasme untuk pertama kalinya.

aku yang sudah tak tahan lagi mulai merubah posisiku yang dari 69 ke posisi biasa dan ia membuka lebar pahanya seakan akan ia mempersilakan aku menjebol vaginanya,dan aku mulai meggosokan penisku yang sudah tagang ke permukaan vaginanya ketika itupun ia mengeluh"OOGH........OUGH......."dan dengan penuh nafsu aku mulai mengatur penisku ke arah kemaluannya dan ia memohon kepadaku"JANGAN......JANGAN...KAU MASUKAN CHRIS AKU MASIH PERAWAN JANGANN........"aku yang sudah bernafsu sudah tak dapat mendengar permohonannya lagi aku segera menancapkan penisku kedalam vaginanya"OUGHH........SAKITTTTT.....CHRIST..........SAKITTTTTTTT........"aku diam sesaat merasakan kenikmatan lubang perawan terasa penisku seakan akan ada yang menghisap hisap di dalam vaginanya,aku pun mulai menggenjotnya dengan penuh nafsu"OUGH..YES REN BETAPA NIKMATNYA MEM*KMU YANG MASIH PERAWAN INI REN" aku dengan membabi buta menggenjotnya sampai ia nangis" menahan rasa sakit.Aku sambil menggenjotnya tak lupa aku mencium bibirnya yang kecil dan tipis tersebut
Setelah beberapa lama ia pun mulai menggoyangkan pantatnya dan aku tau bahwa dia mulai merasakan kenikmatan genjotan aku
dan tak beberapa lama ia mempercepat goyangan pantatnya yang berarti dia akan menuju klimaks yang kedua,"OUGH CHRISTTT......SHHHHH....CHRISTTTTTTTTTT......"sambil memeluk tubuhku ia berteriak sampai"telingaku dibuat penging oleh teriakannya.Akupun tak beberapa lama setelah ia orgasme yang kedua kalinya aku merasakan bahwa aku akan menuju klimaks segera aku memeluk tubuhnya yang sekal tersebut dan mempercepat genjotan yang aku berikan dan tak beberapa lama aku menuju orgasmeku yang pertama"OUGH YES........REN........OUGH........."ia pun tak berontak ketika aku keluarkan spermaku di dalam vaginanya,mungkin karena ia telah kehabisan tenaga pada orgasmenya yang kedua.Aku diamkan penisku didalam vaginanya sesaat setelah aku orgasme,ia pun menangis sejadi jadinya minta pertanggung jawabanku setelah memperkosanya yang pertama kali,aku diamkan saja aku pura pura tak mendengar permohonannya itu.Tak beberapa lama kamipun tertidur dalam keadaan bugil tanpa memakai apapun.
Ketika aku sadar dari tidurku aku melihat irene sedang keluar dari kamar mandi yang ada di kamar nyokapku tanpa memakai apapun ketika itupun gejolak laki laki akupun muncul aku tarik ia jatuh ke tempat tidur dan ia memohon jangan aku lakukan lagi karena ia masih merasakan sakit di vaginanya,aku yang sudah tak tahan dengan keindahan tubuhnya segera mencari posisi untuk menancapkan penisku kembali ke dalam vaginanya,ia pun tak diam ia berontak sejadi jadinya bahkan mengumpatku dengan kata kata"ANJING MANUSIA BIADAB KAU CHRIST"aku tak peduli dengan umpatan umpatan yang dia berikan aku angkat kedua belah pahanya aku taruh di bahuku terlihat vaginanya yang masih bengkak menyembul siap untuk aku masukan penisku yang sudah menegang ini."OUGHH......OUGHHHH......CHRISTTTTT.....SAKITTTT...........SAKITTTTTTTTTT......SEKALIIIIIIIIIIII........"teriaknya,aku tak peduli aku genjot dia secepat mungkin karena nafsu akupun lebih cepat mencapai orgasme untuk kali ini,aku peluk dia sehingga penisku yang sudah mau mencapai klimaks ini menancap lebih dalam ke dalam lubang vaginanya tak beberapa lama aku pun mencapai orgasmeku dan dia terlihat tak berdaya karena genjotanku yang cepat membuat dia kehilangan tenaga menahan rasa sakit yang aku berikan tanpa pemanasan dahulu.Setelah orgasmeku aku tak segera mencopot penisku keluar dari vaginanya aku biarkan didalam vaginanya aku mulai membayangkan pikiran pikiran kotor agar membangkitan kembali penisku yang sudah mulai mengecil tersebut akhirnya tak beberapa penisku pun membesar lagi,irene pun merasakannya dan ia minta untuk melepaskan penisku yang mulai membesar tersebut dari vaginanya sebagai gantinya ia mau melakukan apapun yang aku minta asal jangan menggenjotnya lagi,aku tak ambil pusing segera aku menggenjotnya untuk ketiga kalinya tapi kali ini secara pelahan lahan aku tak mau aku yang mencapai klimaks lebih dulu daripada dia,aku cium bibirnya dan tanganku mulai bekerja diatas dadanya yang menggairahkan,aku ciumi putingnya dan aku sedot sedot sehingga putingnya yang merah tersebut mulai kencang aku remas dan aku gigit sesekali karena gemasnya akan putingnya yang sekal tersebut diapun mengeluh"OUGHHH......SAKITTTT....CHRISTTTTT JANGAN KAU GIGIT.......OUGHHHHH........"aku tak peduli,tidak beberapa lama ia pun mulai tampak tak tenang ia goyangkan kepalanya ke kanan ke kiri dan ia pun menggoyang goyangkan pantatnya sehingga membuat penisku yang didalam vaginanya turut mengacak acak vaginanya
Tidak sampai sepuluh menit kemudian ia mencengkram punggungku sambil mengeluh"OUGH......OUGH.....YES......CHRISTT......AAAAKUUU....SSSUDAHHHHH....TTTAKKK...TTAHAN....LAGIIIIII........."aku percepat genjotanku aku peluk tubuhnya yang indah tersebut dan tak beberapa lama aku merasakan ada cairan hangat yang membasahi penisku di dalam vaginanya akupun menebak pasti itu cairan orgasmenya,aku yang menggenjotnya juga tak tahan lagi dalam posisi tersebut aku percepat gerakanku dan tak beberapa lama akupun mencapai orgasmeku yang ketiga kalinya,dan setelah itu aku diamkan biar spermaku habis semua muncrat didalam lubang vaginanya.
Setelah itupun kamipun tertidur pulas aku tertidur di dadanya yang indah tersebut.

Inne Pembantu Kecilku

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.